Pages

Rabu, 15 Oktober 2014

Tsunami Aceh dan Segala Kenangan yang Ditinggalkan


           Gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang menimpa Indonesia memang sudah 10 tahun berlalu, tetapi duka yang ditinggalkan bencana ini masih terasa hingga kini, khususnya bagi keluarga korban yang ditinggalkan sanak saudara dan kerabatnya. Menurut http://inatews.bmkg.go.id tsunami tidak hanya menimpa Indonesia tetapi hingga mencapai delapan negara lainnya di kawasan Samudera Hindia. Tsunami tersebut telah merenggut lebih dari seperempat juta jiwa pada beberapa negara Asia dan Afrika yang meliputi : Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, Bangladesh, Srilangka, India, Maladewa, Somalia, dan Kenya.
          Gempa yang menimbulkan tsunami ini berkekuatan 9,3 SR yang berpusat di 3,3 LU-95,98 BT. Merujuk data dari BNPB, 173.741 jiwa meninggal dan 116.368 orang dinyatakan hilang, sedangkan di Sumatera Utara 240 orang tewas, Tsunami aceh mengakibatkan ribuan rumah dan bangunan rusak, dan menyebabkan hampir setengah juta orang jadi pengungsi.


Tanah yang tadinya hijau subur, perumahan yang tadinya tertata dengan baik, hancur musnah hanya dalam hitungan jam dan tertinggal sampah serta tubuh-tubuh tidak bernyawa. Aceh menangis, Indonesia berduka dan duniapun mengulurkan tangan sebagai bentuk solidaritas sesama umat manusia.

Gambar 1. dari kiri ke kanan: Citra satelit Aceh Sebelum Tsunami dan Sesudah Tsunami


Sebagai bentuk solidaritas International, tanggal 6 Januari 2005 dilakukan pertemuan puncak yang juga dihadiri oleh Sekjen PBB Kofie Annan. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa banyak negara akan memberikan bantuan termasuk juga upaya kedepan untuk mengurangi dampak bencana, salah satunya dengan membangun sistem peringatan dini tsunami.
Selain itu untuk mengenang kejadian ini dibangun pula sebuah museum yang disebut Museum Tsunami Aceh. Menurut http://wikipedia.com, Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris.
Gambar 2. Museum Tsunami Aceh



 Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami. 
Gambar 3. Museum Tsunami Aceh dari Dalam
Sumber : http://republika.com

Selain dari segi pembangunan museum sebagai cara mengenang kejadian ini, terdapat pula karya yang menggunakan latar belakang kejadian tsunami Aceh ini. Salah satunya adalah novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye. Yang diterbitkan oleh Republika. Menurut http://sinopsisnovelku.blogspot.com, novel ini bercerita tentang seorang bocah perempuan bermata hijau telaga yang baru berusia 6 tahun. Gadis cilik tersebut bernama Delisa. Ia merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Adapun kakak-kakan Delisa adalah Cut Fatimah, Cut Zahra dan juga Cut Aisyah. Keluarga Delisa berdomisili di Lhok Nga. Delisa dan saudara-saudaranya hanya tinggal bersama Ummi, sebab sang Abi bekerja sebagai mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar. 


Gambar 4. Cover Novel Hafalan Shalat Delisa

Meski merindu, tetapi Delisa tetap menjalani hari-hari mereka tanpa sang Abi. Suatu hari Delisa mendapat tugas dari sekolahnya. Tugas tersebut adalah menghafal bacaan salat. Delisa giat sekali menghapas bacaan-bacaan tersebut. Terlebih ummi menjanjikan ia hadiah jika Delisa berhasil menghafal baccan tersebut. Hadiah yang membuat Delisa semangat adalah kalung emas yang dijual di toko Ko Acan. Ko Acan sendiri merupakan sahabat Abi Delisa.

Tanggal 26 Desember tahun 2004, Delisa dan semua teman seisi kelasnya dijadwalkan mempraktekkan hafalan solat yang telah mereka hapalkan beberapa waktu. Saat tiba giliran Delisa, sembari mengucapkan bacaan solat, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Semua tampak gonjang ganjing. Dan seketika, air laut mulai naik ke daratan dengan ganasnya. Ia bagai tangan raksasa yang merengkuh segala yang ia jumpai. Bencana tersebut adalah gempa hebat yang disusul tsunami. Kurang lebih 15.000 orang yang meninggal akibat bencana ini. Termasuk di dalamnya Ummi dan kakak-kakan Delisa. 

Delisa sendiri selamat. Ia tersangkut di semak belukar. Siku kanan bocah tersebut patah dan kakinya bagian kanannya terjepit di bebatuan. Setelah 6 hari terjebak di tempat terebur, Delisa kemudian ditemukan oleh seorang prajurit relawan bernama Smith. Delisa yang dilihatnya sangat bercahaya kemudian membawa prajurit tersebut untuk masuk Islam. 

Karena suasana yang kacau balau, Abi yang telah mengetahui bencana tersebut tak bisa menemukan Delisa. Ia menghabiskan beberapa waktu sebelum akhirnya bertemu gadis mungilnya. Saat bertemu Abinya, Delisa bercerita layaknya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Bencana tak menghapus keceriannya. Termasuk saat kaki kanan Delisa harus diamputasi, semuanya tak berhasil membuat ia murung. Ia bersama Abi menjalani hidupnya. menata dari awal. Meski jasad Ummi dan ketiga kakaknya belum ditemukan, tapi Delisa dan Abi harus hidup normal, begitu pikirnya. 

Suatu waktu Delisa melihat ada sebuah pantulan cahaya yang mengganggu penglihatannya. Karena penasaran, Delisa pun mendekat. Dan tak disangka, cahaya tersebut merupakan pantulan kalung dengan huruf D. Dan kalung tersebut berada dalam pegangan seseorang. Ummi Delisa sendiri. Setelah sukses dengan novelnya, Hafalan Shalat Delisa dibuat juga dalam bentuk filmnya. Yang dibintangi oleh Nirina Zubir dan Reza Rahardian.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com